Senin, 29 Agustus 2016
Kamis, 25 Agustus 2016
ORIENTASI PENGENALAN AKADEMIK DAN KAMPUS (OPAK ) (HAERUL AKBAR)
Sebagai
Prolog!!!
OPAK, OSPEK, atau
apapun namnaya, merupakan medium dan kawasan perantara seorang siswa yang akan
berhijrah menjadi mahasiswa, jenjang pendidikan SMA yang akan berhijrah kejenjang
Perguruan Tinggi. Momen yang begitu fenomenal!!!
Secara kontekstual,
sebuah hikmah berharga jika kita kiyaskan antara OPAK dengan sebuah peristiwa
bersejarah dimasa Nabi Muhammad saw yaitu apa yang telah dilakukan kaum Anshar
kepada kaum Muhajirin dalam peristiwa hijrah. Kurasa akan kita katakan bahwa: “Betapa
luhur dan mulianya sikap kaum anshar kepada para Muhajirin dari Makkah”
Allah
berfirman:
“Dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor)
sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang
berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin);
dan mereka mengutamakan (Orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri,
sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS, al-Hasyr/59: 9).
--------------
ORIENTASI PENGENALAN AKADEMIK DAN KAMPUS (OPAK ) (HAERUL AKBAR)
Sebagai
Prolog!!!
OPAK, OSPEK, atau
apapun namnaya, merupakan medium dan kawasan perantara seorang siswa yang akan
berhijrah menjadi mahasiswa, jenjang pendidikan SMA yang akan berhijrah kejenjang
Perguruan Tinggi. Momen yang begitu fenomenal!!!
Secara kontekstual,
sebuah hikmah berharga jika kita kiyaskan antara OPAK dengan sebuah peristiwa
bersejarah dimasa Nabi Muhammad saw yaitu apa yang telah dilakukan kaum Anshar
kepada kaum Muhajirin dalam peristiwa hijrah. Kurasa akan kita katakan bahwa: “Betapa
luhur dan mulianya sikap kaum anshar kepada para Muhajirin dari Makkah”
Allah
berfirman:
“Dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor)
sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang
berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin);
dan mereka mengutamakan (Orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri,
sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS, al-Hasyr/59: 9).
--------------
Selasa, 09 Agustus 2016
OBAT BIUS MUJARAB Oleh Haerul Akbar
Kemajuan zaman ini
memberikan kesepian dan keterasingan baru, yang ditandai dengan lunturnya rasa
solidaritas, kebersamaan, dan silaturrahim.
Syamsul Kurniawan
(Cet.I; Jaakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), h. 17.
Di dunia maya kita telah terkoneksi dengan ribuan hingga jutaan orang tanpa mengenal lagi batas teritorial, dengan siapa dan di manapun kita bisa berkomunikasi. Batas lautan, daratan, gunung, dll bukanlah sebuah halangan. Sungguh demikian hebat akan kemajuan itu. Namun dalam situasi yang lain secara nyata hubungan interpersonal secara riil telah terkikis sedemikian dahsyat, seolah tanpa sadar sikap individualistik telah dikonstruksi dan terkesan hubungan sosial secara riil kian terabaikan. Olehnya itu kita harus proporsional (seimbang) dalam menyikapi kemajuan itu.
Kemajuan
IPTEK dan media digital saat ini berkonstribusi besar memberikan kemudahan dan
kenyamanan bagi manusia, namun disisi lain seakan menihilkan nilai kemanusiaan
secara riil.
Ombang-ambing
dunia layar menghanyutkan manusia masuk ke lautan hegemoni media (terkhusus
media social). Hampir semua orang dan kalangan memiliki akun facebook, twitter,
BBM, WA, line, dan lain-lain. Hemat saya sangat memungkinkan manusia dalam
kesehariannya ditidurkan dan dibangunkan dengan media social ini (maksudnya
media social layaknya sudah menjadi teman sejati).
Biusan-biusan
layar smartphone seolah bekerja sangat optimal membuat korbannya mati rasa
terhaadap lingkungan yang sebenarnya (termasuk manusia di sekitarnya) sehingga
menganggap apa yang ada di sekitarnya hanya fatamorgana dan dunia sesungguhnya
itu ada pada smartphone. Betul-betul obat bius mujarab yah!.
Indikasi
obat bius ini nyata kok. Coba kita tengok secara empiric realitas yang
terjadi!.
Pertama:
terkadang orang menghiraukan (cuekin) keberadaan orang lain di sampingnya dan
tak menggubris sama sekali pertanyaan orang lain itu karena dia terlalu sibuk
memesrakan jari jemarinya di smartphone. Interaksi sosila secara langsung
dengan personnya mulai renggang.
Kedua:
biasa
kita jumpai beberapa orang dalam satu tempat namun tak ada komunikasi secara
verbal di situ, hanya sesekali berkomunikasi itupun secara nonverbal (dengan
isyarat dan lain-lain). Mengapa??? Karena mereka masing-masing sibuk dengan
“dunia layarnya”. Meraka duduk berjam-jam (dalam waktu yang cukup lama) namun
mereka seakan melihat orang di sampingnya tak lebih penting dengan
teman-temannya di dunia layar. Komunikasi secara langsung dengan orang
dihadapan kita seakan diabaikaan. Saya rasa dalam hal ini kita harus
proporsional.
Ketiga:
saya kira hal ini tak populer namun ada, iya!. Ada orang tua yang mengabaikan
buah hatinya hanya karena smartphonenya sehingga ada cerita mengenai seorang
anak yang ditanya oleh orang tuanya: “cita-citanya mau jaadi apa nak? Anak itu
menjawab: “ayah, bunda! Saya mau jadi smartphoe”. Sontak orang tuanya kaget
mendengar jawaban anaknya sembari ibunya bertanya: “kenapa mau jadi smartphone
nak?” anaknya menjawab: “iya bunda karena saya iri dengan smartphone, ayah dan
bunda sangat menyayangi smarphone itu, setiap hari dibawa, dilihati dan jari
jemari ayah dan bunda tak pernah lepas darinya, sebagian besar waktu ayah dan
bunda hanya dihabiskan dengan smartphone itu sementara saya dihiraukan dan
diabaikan. Saya juga mau ayah dan bunda tiap hari memesrakan jari jemarinya di
kepala saya, membelai rambutku, membawa ke mana-mana dan saya mau sebagian
besar waktu ayah dan bunda itu buat saya, tapi kan tidak, ayah dan bunda lebih
mementingkan smartphone. Mendengar jawaban itu, orang tuanya langsung menangis
dan merangkul buah hatinya itu.
Setidaknya
tiga insikasi obat bius mujarab di atas menjadi bukti bagaimana kita telah
berada dalam hegemoni media yang sungguh fantastis.
Apa
yang harus kita lakukan?. Sebaiknya kita harus proporsional dalam hal ini,
kemajuan IPTEK itu sangat bermanfaat, media social komunikasi via online itu
sangat membantu tetapi jangan hal itu membuat kebersamaan, silaturrahim, dan
komunikasi secara langsung menjadi luntur dan seperti yang diungkapkan Syamsul
Kurniawan di atas yaitu kesepian dan keterasingan baru yang menihilkan nilai
kemanusiaan.
SUKSES
DUNIA MAYA
SUKSES
DUNIA NYATA
PROPORSIONAL
“Wallahu
a’lam bi ash-shawab”
Senin, 16 Mei 2016
TOLERANSI DALAM AGAMA
Oleh:
Haerul Akbar
Umat kristianai
merayakan hari natal
Umat islam hiruk pikuk
Sebuah
Kausalitas bahwa Interpretasi dan pemahaman tentang toleransi menuai banyak
perbedaan sehingga tak heran kalau berakibat pada pengaplikasian (pengamalan) toleransi
juga banyak menuai perbedaan.
Hingga
saya ingin berkata bahwa: berpijak dari riuhnya perbedaan tentang toleransi
maka mengatas namakan “toleransi” antar umat beragama (tataran sara’) sungguh terasa
sangat sensitif. Berhati-hatilah!!!... hanya memicu perdebatan yang tak kunjung
selesai.
Setelah
saya petakan berdasarkan pendekatan pertentangan di atas, maka saya ingin
menyatakan bahwa toleransi dalam semesta “ sara’ ” memiliki dua sisi yang
begitu frontal dan saling kontradiktif. Disatu sisi toleransi itu layaknya
sesuatu yang begitu indah, rukun, peduli, menghormati, menghargai, bermanfaat
dan seterusnya namun disisi lain seakan itu adalah sebilah belati yang setiap
saat bisa menyayat dan menikam jantung hingga kita tak berdaya… sekali lagi ini
analisis toleransi dalam semesta sara’
bukan pada semesta yang lain!!!
Bagi
Umat Islam, sungguh sederhana dan begitu luhur. Allah berfirman “lakum diinukum
waliyadin” konsep toleransi yang diajarkan antar umat beragama.
Biarkanlah
umat kristiani merayakan hari kebesarannya. Diam, mendengar, menyaksikan, tanpa
mengganggu, tanpa mengacaukan, maka itu sudah cukup menjadi indikator bahwa itu
toleransi.
"Wallahu' A'lam bi ash-Shawab"
“SIAPA DIBALIK LAYAR PENDIDIKAN”
Oleh:
HAERUL AKBAR
MEMPERINGATI HARI PENDIDIKAN NASIONAL: SEBUAH REFLEKSI Berangkat dari spekulasi pribadi yang kukira masih sangat fluktuatif melihat realita pendidikan
Pendidikan
merupakan hal yang sangat sensitif bagi suatu bangsa terutama dalam menjaga
generasinya. Keberadaan pendidikan merupakan hal yang sangat urgent dalam
menjaga dan mencetak generasi unggul.
Demikianlah sehingga pendidikan itu selalu eksis berjalan seiring berjalannya
roda kehidupan sebuah bangsa dan negara,
pendidikan selalu ada di mana setiap manusia berpijak
Eksistensi
pendidikan (pendidikan formal) lazim digunakan sebagaai media atau wadah untuk
mentransfer ilmu pengetahuan namun lebih dari itu diera pendidikan modern,
pendidikan bukan hanya sebagai wadah untuk mentransfer ilmu pengetahuan
melainkan juga sebagai wadah untuk membentuk dan membina kepribadian
mansia/peserta didik meliputi pembentukan pemikiran, perasaan, dan perilaku
peserta didik atau manusia pada umumnya(sesuai kurikulum yang diterapkan)
Kalau
begitu berarti kurikulum dan kepribadian manusia/peserta didik yang dihasilkan
oleh sebuah wadah yang dinamakan “pendidikan” itu amat sangat tergantung oleh
siapa dan ideologi apa yang menguasai sistem pendidikan suatu negara (misalnya)
maka mereka dengan leluasa dan merasa bebas melahirkan generasi-generasi baru,
lulusan-lulusan baru sesuai bentuk kepribadian atau hasil cetakan yang
dikehendakinya.
Alangkah
naifnya kalau pendidikan suatu bangsa/negara dikendalikan oleh sesuatu yang
keliru dan menyimpang. Kalau sistem pendidikaan suatu bangsa dikendalikan oleh
kaum liberal yang sistemnya sekuler maka bisa dijamin bahwa kurikulum
pendidikannya akan berbau sekuler dan yakinlah lulusan atau generasi yang dihasilkan
tentunya diorientasikan menjadi generasi-generasi yang liberal dan sekuler
pula. Demikian juga kalau dikendalikan oeh sistem yang lain pasti orientassinya
adalah melahirkan generasi yang bisa melanggengkan eksistensinya. Sedikit
mengaitkan dengan agama Islam, kalau pendidikan itu dikendalikan oleh Islam
maka tentulah akan lahir generasi-generasi islam yang akan menjaga Izzah islam.
Adapun
potret pendidikan di Indonesia, entah dibalik kendali apa dan siapa? serta
lulusan-lulusannya itu entah bercorak seperti apa? Dan ideologi yang bermain
dibalik layar pendidikannya itu ideologi apa? Wallahu a’lam.
Saya
ingin katakan bahwa Alhamdulillah mungkin kita telah optimal dan berhasil
menjalankan proses belajar mengajar dengan baik yang ditunjang oleh
fasilitas-fasilitas pembelajaran yang memadai, media-media pembelajaran yang
tersedia, kucuran dana yang begitu besar, gedung-gedung dan ruangan belajar
yang nyaman, pendidik-pendidik yang terampil menerapkan model-model dan
metode-metode belajar. Itu semua merupakan hasil capaian yang luar biasa dalam
semesta proses namun terlepas dari itu semua, menjadi renungan kritis dalam
menerawang semesta hasil (out put): kita ini hanya kuantitas-kuantitas dan
actor-aktor pendidikan, apakah kita pernah memikirkan ke mana arah pendidikan
kita? Pendidikan kita sebagai cetakan generasi itu cetakannya seperti apa?
Siapa yang mengendalikan pendidikan kita? Siapa yang menjadi sutradara kita
yang ada di balik layar itu? Sebagai actor harus mengetahui dan mampu
menerawang lebih jauh seperti apa ending dan hasil dan cerita pendidikan yang
dilakoninya.
Boleh
jadi kita berhasil mencetak generasi dan lulusan yang berilmu pengetahuan
tinggi namun disisi kepribadiannya itu terbentuk kepribadiian yang naïf (karena
tergantung siapa yang mengendalikan pendidikan saat itu)
Sangat
boleh jadi kepribadian naïf itu dibentuk oleh ideology tertentu yang dianut
oleh sebuah negara karena konsep pendidikan itu sangat dipengaruhi oleh
ideology sebuah negara. Akhirnya tak jarang kita dengar dengan bahasa
sederhananya “orang yang berilmu pengetahuan tinggi namun korupsi, memakai
narkoba, mabuk-mabukan, berpangkat namun selalu berbuat ceroboh dan
seterusnya”. Potret pendidikan yang tercemari.
Sungguh
luar biasa para pelaksana dan para aktor-aktor pendidikan kita (terutama guru).
Mereka sudah bekerja dengan baik, memikirkan konsep pendidikan yang matang,
mempersiapkan rencana pembelajaran yang efisien dan efektif, mempersiapkan
media pembelajaran yang bermacam-macam, masuk ruangan kelas dengan tepat waktu,
memberikan wejangan yang luar biasa semata-mata untuk mencetak generasi yang
unggul dan bermoral namun pada akhirnya generasi itu disabotase oleh pihak yang
mengendalikan pendidikan dan dicekal oleh kehendak ideologi atau sistem pendidikan tertentu.
PENDIDIKAN ADALAH
KEBUTUHAN, MAKA PENDIDIKA HARUS DIKENDALIKAN OLEH UNSUR YANG BERSIH. NAMUN
UNTUK SAAT INI, MENDAPATKAN SESUATU YANG BERSIH ITU TAK GAMPANG. TEMANKU
BERKATA “APPOLOIKKO!!!”.
Wallahu a’lam bi
ash-shawab.
Langganan:
Postingan (Atom)
